Minggu, 05 Mei 2013

SEMPENGOT (facial paralysis)

 
Seseorang menderita facial paralysis (sempengot), mulutnya ketarik kesamping. Karena kurang pengetahuan keluarganya malah percaya, bahwa sakit ini disebabkan oleh magic, maka harus berobat kepada orang pintar, dukun (balian). Apakah ‘si-Balian’ benar-benar memiliki pengetahuan tentang sakit ini, mengapa dan bagaimana orang bisa kena facial paralysis? Jika tidak, bukannya kesembuhan yang diperoleh, namun sakitnya malah semakin parah, dan jika kasusnya telah menahun, akhirnya tak’an tertolong lagi. Sakitnya tak kunjung habis yang habis sawahnya terjual untuk biaya UPAKARA (persembahan yang dipercaya dapat membuat sembuh si-sakit).

Dalam bahasa daerah penyakit ini disebut sempengot. Dan menurut kepercayaan setempat, sakit ini selalu dikaitkan dengan magic, sehingga mereka akan pergi ke-dukun (balian). Ada bermacam-macam faktor terjadinya sempengot. Kita tak mungkin mengulas hal itu, namun yang jelas kondisi urat dan syaraf pada wajah mengalami ketidak se-imbangan. Ketidak-seimbangan pada wajah ini terkait dengan otot-otot leher, upper trapesius sampai pada deltoid dan syaraf-syaraf kepala. Pada intinya kita mesti mampu membuat urat-urat dan syaraf yang
tidak sebimbang ini menjadi se-imbang. Terapi inti, yang dibutuhkan untuk menyeimbangkan adalah dengan penekanan pada titik-titik neuro-vascular yang sebagian besar berada pada kepala dan wajah. Metode penekanan yang dilakukan pada wajah bagian kiri dan kanan mestilah berbeda. Dan kita mesti mampu membaca kondisi wajah pasien, mana yang kendor mana yang tegang; dengan demikian kita mampu menerapkan metode secara tepat. Disatu sisi mesti menggunakan metode “weaken” (melemahkan) dan di-sisi yang lainnya dengan metode “strengthen” (menguatkan). Metode sentuhan (rabaan) dan penekanan ini mestilah sungguh-sungguh bekerja pada titik-titik neuro-vascular secara tepat dan benar. Bila stadium sakitnya belum parah; dalam dua tiga kali terapi saja sempengotnya pasti sembuh. Namun jika kondisinya telah bertahun-tahun, maka sakit ini telah bersifat permanent disablement.
Setiap orang sangatlah penting untuk belajar agar dapat memahami kehidupan; termasuk sakit sempengot ini, kenapa dan mengapa? Untuk belajar orang harus mempertanyakan, menyelidiki bukan mempercayai. Karena percaya, maka orang akan berhenti menyelidiki, berhenti mencari penyebabnya.
Jika orang melakukan pengamatan pada segala hal dalam kehidupan, pada pengalaman nyata yang terjadi, dia akan dapat belajar banyak hal-hal yang bermanfaat. Namun kendalanya orang kebanyakan tidak suka belajar yaitu melakukan penyelidikan, pengamatan, menyangsikan, dan mempertanyakan; namun mereka lebih suka percaya dan menyerahkan masalahnya pada orang lain.
Apa yang dapat dipetik dari kasus diatas atau kejadian-kejadian sejenis yang terjadi begitu banyak di sekitar kita? Jika kita jernih, semua masalah berawal dari kemalasan kita belajar. Karena tidak memahami permasalahan, kitapun percaya pada setiap petunjuk orang lain. Dan ironisnya kita mempercayai orang yang cukup tolol untuk dapat memberi informasi yang benar. Dapatkah orang dengan jujur melihat kebodohan dirinya? Bagaimanapun orang harus mengakui apa adanya, namun demikian orang tidak harus menerima hal yang bodoh ini menjadi bagian dari hidupnya. Maka dari itu hal yang harus dilakukan, adalah membunuh kemalasan belajar, bukannya menyembelih babi yang hanyalah merupakan simbol dari kemalasan itu.
Seperti diuraikan dalam tulisan tentang SESAK DAN HISTERIA yaitu jika seorang jatuh sakit secara otomatis sentral energinya terganggu. Ketika sakitnya tak kunjung sembuh, batinnya semakin terbebani, apalagi jika dia mendengar informasi yang mengkawatirkan mengenai sakitnya. Demikianlah sentral energinya mengalami tekanan yang semakin berat, dan ini memperburuk keadaannya. Kondisi seperti ini sering terjadi pada keluarga yang tidak memiliki pengetahuan tentang kesehatan, justru mempercayai hal-hal yang tidak logis yang bersifat takhyul.
Memang bukan hal yang mudah untuk dapat membebaskan diri dari kepercayaan yang telah mengkondisi orang dari puluhan bahkan ratusan tahun. Namun demikian orang harus membebaskan diri dari segala macam pengaruh kepercayaan, jikalau tidak orang tak’an dapat belajar dengan benar yaitu melihat atau memahami fakta yang terjadi sebagaimana adanya. Fakta yang ada tak dapat terlepas dari hukum alam yaitu hukum sebab-akibat yang selalu bergerak, yang terus menerus berubah. Tak ada kejadian tanpa sebab. Namun karena kepercayaannya orang tak dapat melihat hukum-alam. Dan kepercayaan adalah pengingkaran dari realita yaitu hukum alam yang pasti (sanatana-dharma).
Pikiran merupakan faktor utama, kenapa orang jatuh sakit. Marilah kita mencoba memahami bagaimana kerja pikiran yang berada dalam ruang batin kita, dan bagaimana hubungannya dengan kesadaran, perasaan, nurani, emosi, yang merupakan komponen penting dalam setiap tindakan. Semua komponen itu satu sama lain saling terkait, memegang peran penting dalam kehidupan. Semua komponen tadi bisa membuat hidup bermanfaat atau sebaliknya membuat hidup berantakan. Janganlah mengambil satu kesimpulan apapun, namun amati dan selidiki dengan seksama.
Didalam ruang batin ada pikiran yang terus menerus bergerak. Pikiran hampir memenuhi seluruh ruang ini. Pikiran membuat file-file dan disimpan dalam memori yang merupakan ingatan dari pengalaman masa lalu. Dari dalam memori inilah pikiran bertindak, membuat analisa, membenarkan, menyalahkan, menimbang-nimbang dan menyesuaikan. Dalam setiap tindakan, pikiran menjadi sensor penggerak bagi komponen yang lainnya. Dari pikiran akan timbul bermacam-macam perasaan, seperti: sedih, cemas, senang, bangga, takut, benci, marah, dan lain sebagainya. Hampir semua dari kita dalam setiap hal, bertindak didasari oleh dorongan pikiran, dan barangkali tak pernah menyadari atau mengamati proses dari tindakan. Marilah amati suatu ilustrasi sederhana dari kerja pikiran kita.
Ketika melihat tetangga membeli sepeda motor baru, pikiran saya berkata, “Uh, cuma motor begitu, gue akan beli yang lebih bagus.” Pikiran telah menggerakan emosi saya yang tak mau kalah dalam persaingan hidup. Atau pikiran berkata “wah…, aku tak’an pernah bisa membeli motor, jangankan motor untuk makan ini haripun sulit.” Pikiran telah membangkitkan perasaan iba diri, dan kesedihan dalam keputus-asaan.
Demikianlah pikiran bertindak terus menerus secara otomatis dari dalam file-file pengalaman masa lalu dan menggerakan komponen-komponen yang lain silih berganti menguasai batin yang lepas dari pengamatan. Hanya kadang-kadang melintas kesadaran secara samar, ketika orang meragukan, mempertanyakan atau menyangsikan.
Untuk memahami kehidupan ini, orang mestilah tidak percaya apapun, orang harus mempertanyakan, dengan demikian barulah ada penyelidikan dan pengamatan; ini adalah proses belajar. Untuk belajar yang benar mutlak mesti ada kebebasan; bebas dari pendapat, dogma, kepercayaan, atau otoritas apapun. Karena jika orang terkondisi oleh satu pendapat, dogma atau kepercayaan, dia tidak akan dapat melihat secara utuh apa adanya. Hal ini perlu dicamkan, agar kita dapat melangkah lebih jauh. Disamping itu dalam proses belajar ini juga diperlukan semangat yang besar, kemauan yang kuat dan sungguh-sungguh berminat. Jika tidak, anda akan tergelincir ditengah jalan.
Bagaimanakah kemauan dan semangat yang kuat ini dapat tumbuh didalam diri? Kemauan dan semangat ini akan ada, jika orang melihat, menyadari betapa pentingnya untuk memahami hidup ini. Seperti halnya awak perahu yang sedang berlayar ditengah samudra, ketika melihat perahunya bocor, mereka akan bergegas dengan semangat yang besar menguras air yang masuk dan segera menambal perahunya, apabila mereka tak mau mati tenggelam. Dapatkah kita seperti si awak perahu yang melihat bahaya? Seandainya orang sungguh-sungguh melihat bahaya, diapun bertindak. “Bertindak adalah melihat adalah belajar.”
Belajar memahami hidup, artinya memahami diri sendiri secara menyeluruh termasuk memahami sakit; baik sakit fisik maupun non-fisik. Jika orang telah memahami diri sendiri, kenapa dia menjadi stress, kenapa dia jengkel, cemas, takut, marah, licik, malas, berputus-asa, dan sebagainya; dari sini barangkali dia akan dapat belajar melihat segala yang terkait didalamnya. Dapatkah orang melihat semua kebodohan dirinya? Tidaklah cukup dengan berkata, “oh ya saya memang pemarah, penakut, pembohong,” dan sebagainya. Pernyataan yang datar, dangkal ini bukanlah suatu keinsyafan, ini tak ada artinya.
Orang harus sungguh-sungguh menginsyafi secara mendalam dengan mengamati keseluruhan ikwal, apa-apa saja yang terkait. Jika saya jengkel, saya harus mencari sebab, kenapa saya jengkel dan untuk apa saya jengkel? Saya harus mempelajari, mengamati seluruh proses sampai saya memahami sehingga ada keinsyafan, kesadaran akan kebodohan ini. Apabila orang telah betul-betul memahami senyatanya, didalam tindakan, maka diapun terbebas dari semua masalah bodohnya. Namun kebanyakan orang tidak mau melihat, menyadari, tapi kita menerima saja dan ikut menyesuaikan diri, bahwa hidup memang seperti ini. Tak pernah orang bertanya atau meragukan, namun orang hanyalah percaya bahwa harus hidup dalam kebingungan, kecemasan, kebohongan, kemunafikan, ketakutan. Dan ketika orang telah terbiasa dengan hal-hal ini, diapun sama sekali tak dapat menyadarinya. Seperti halnya orang yang tinggal di tepi laut, tak’an dapat melihat lagi indahnya laut!!
SUMBER: http://wayanwindra.wordpress.com/2009/11/05/sempengot/

0 komentar:

Posting Komentar